Bintang.com, Jakarta Don’t judge book by its cover. Begitu kata orang-orang untuk mereka yang suka menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya. Saya sendiri bukan termasuk dalam golongan orang-orang yang sependapat dengan pepatah itu. Sebab, bagaimana bisa saya mengetahui kepribadian orang yang saya tidak kenal selain dari penampilannya. Sedangkan sebagian kepribadian tergambarkan dari bagaimana mereka berpakaian?
***
Sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia, pakaian ialah salah satu hal penting dalam hidup di samping rumah dan makanan. Berfungsi untuk melindungi tubuh dari sengatan panas dan dingin serta cuaca ekstrem lainnya, rupanya pakaian tak selalu difungsikan demikian. Lebih dari itu, sejak beberapa abad lalu pakaian juga menjadi salah satu tanda strata sosial seseorang. Sadar, nggak?
Biasanya hal tersebut ditandai dengan label dan harga mahal dari sebuah pakaian. Padahal, sih, modelnya juga nggak seberapa. Sebagai seorang Aquarian yang belum mapan, merek pakaian bukanlah sebuah prioritas. Bagi saya, berpakaian adalah soal kenyamanan dan bagaimana agar pakaian yang saya kenakan menarik perhatian orang lain. Ya namanya juga Aquarius, ya, Gaes~
Oleh karena itu, saya mencari alternatif dalam berbelanja pakaian. Bukan ke toko pakaian di trade center kota tempat saya tinggal, bukan pula ke mall yang bisa bikin dompet jebol. Lantas? Jawabannya ada di awul-awul. What the hell is awul-awul?
Kalau saya menyebutkan awul-awul mungkin nggak banyak yang tahu, kecuali anak gaul Yogyakarta dan sekitarnya yang malang melintang di sana. Namun, jika saya menyebutnya dengan pasar baju bekas yang belanjanya diawul-awulin (diaduk-aduk), pasti sudah kamu paham, kan? Ya, untuk memenuhi kebutuhan sandang, saya lebih sering berbelanja di tempat-tempat semacam Pasar Senen atau garage sale.
Perkenalan saya dengan second hand market berangkat dari seorang teman saya di SMA, yang gemar berbelanja di sana. Awalnya, saya tak lantas menerima. Sebelumnya, saya melayangkan banyak pertanyaan kritis untuk itu. Terutama soal kesehatan dan kebersihan baju yang didapat. Bagaimana bisa saya memakai baju bekas orang lain yang saya nggak tahu identitas dan punya riwayat penyakit menular apa?
Lantas saya berpikir, bagaimana saya tahu jawabannya jika saya tidak membelinya? Untuk menjawab satu persatu pertanyaan, pada satu kesempatan, saya pun membeli sebuah jaket cardigan hitam bermotif polkadot warna warni seharga Rp15 ribu di Pasar Senen. Bagaimana kondisinya? Tentu masih sangat layak. :)
Membeli barang bekas tentunya ada beberapa konsekuensi yang harus diterima. Mulai dari kondisi pakaian yang tampak lusuh, warna yang tak lagi cemerlang, hingga parahnya penyakit kulit menular (amit amit!). Tapi, bagi saya, semua itu bisa disiasati. Berbekal petuah dari teman saya yang eksis di dunia barang bekas lebih dulu, saya mampu meng-cover itu semua hingga pada akhirnya saya kecanduan untuk berbelanja di sana.
Bagi saya pribadi, berbelanja di awul-awul, bukan hanya pertimbangan soal harganya yang miring dan model pakaian yang limited edition, serta merek terkenal. Lebih dari itu, hunting pakaian awul-awul memberi saya beberapa pelajaran hidup meski sepele, terutama dalam berbelanja. Ketelitian, kesabaran, dan melihat peluang dalam keterbatasan, misalnya.
Saat berbelanja pakaian di awul-awul, otomatis saya akan bertemu dengan ratusan pakaian bekas yang meski layak pakai, namun pasti ada cacatnya. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian yang detail untuk mendapatkan pakaian layak tanpa cacat. Melihat tampilan luar bagian depan tak cukup, belanja di awul-awul juga membuat saya harus melihat bagian belakang, dalam, kancing, kantong, noda, dan lain sebagainya. Tak seteliti jika saya berbelanja pakaian baru di mall.
Dari ketelitian yang detail, tentu saya mengambil waktu lebih lama untuk itu. Sehingga, dibutuhkan kesabaran untuk memilah-milah mana pakaian yang akan saya beli. Ditambah lagi tempat awul-awul nggak ada AC alias panas, sempit, dan dipenuhi orang. Hal itu tentu sungguh menguji kesabaran saya sebagai manusia biasa. Hiks.
Oiya, saya selalu mengambil semua baju yang saya sukai di awal untuk kemudian saya pilih di akhir setelah terkumpul. Sebab, sebagai Aquarius yang impulsif, saya tidak ingin menyesal jika pakaian jatuh ke tangan orang lain, dan saya tak bisa memiliki pakaian yang sama karena semua pakaian di awul-awul satu model, satu warna, dan satu kesempatan saja untuk memilikinya. :)
Karena itu, saya harus pandai-pandai melihat peluang dalam keterbatasan yang ada. Di mana ada baju yang sekiranya saya taksir, maka harus saya selamatkan. Jangan sampai baju itu menghantui saya ketika keberadaannya sudah berada di tangan orang. Sakit banget rasanya, Sist! Ibarat mantan yang kita sia-siakan, lantas saat kita menyesal, ia sudah jatuh ke pelukan seseorang. ((( kita )))
So, buat kamu yang ingin tampil fashionable, kece, gaul, modis, dan beda dari yang lain tapi dengan budget minim, nggak ada salahnya untuk mencoba belanja di awul-awul di kotamu. Sebab, awul-awul adalah kunci. Happy shopping!:D
0 Response to "Editor Says: Awul-awul adalah Kunci"
Posting Komentar