Siapa bilang rambut pendek hanya milik para lelaki? (Via: pixie-cropped.tumblr.com)
Menghabiskan waktu di ibu kota Jakarta yang (tampaknya) matahari lebih dekat ke kepala dibanding kota-kota lain, membuat saya dan jutaan orang lainnya yang juga pengguna transportasi umum lebih banyak berkeringat. Bagai juru penyelamat, rambut pendek membuat rasa gerah dan panas sedikit berkurang, jika dibandingkan saat saya berambut panjang dulu.
Tak ada lagi drama lupa bawa kunciran, kunciran putus, atau semacamnya yang bikin emosi jadi ikut tersulut. Semilir angin pun lebih mudah menghempas kulit kepala. Plus, nggak ada lagi acara bad hair day atau rambut rusak karena catokan rusak kena cuaca panas dan angin di jalan.
Menganut paham ekonomis, sebagai perempuan berambut pixie saya juga merasakan hematnya menggunakan sampo. Jika biassaat berambut panjang saya bisa menghabiskan sebotol sampo seukuran 600 ml untuk sebulan, saat berambut pendek, saya bisa memperpanjang usia sampo hingga dua bulan. Warbiyasak!
Ingin mendengar yang lebih epic? Rambut pendek tak akan pernah membuatmu bingung saat ada undangan pesta. Untuk mendukung penampilan biar hits, biasanya cewek-cewek akan rela berjam-jam berada di salon dalam rangka mempercantik rambut. Kalau kamu punya rambut pendek, nggak ada tuh bingung rambut mau disanggul model ibu-ibu pejabat atau ibu-ibu PKK.
Bagai dua sisi mata pisau, yang berbeda. Ada menyenangkan, pasti ada sisi menjengkelkan. Saya tahu, ini bagian dari konsekuensi, namun, hak saya juga bukan untuk memiliki rasa keki? Lantas, di mana sisi menjengkelkan (bagi saya) ketika memiliki berambut pendek?
Kembali ke stereotip. Beberapa orang menganggap jika perempuan berambut pendek memiliki pribadi yang bebas, bahkan radikal. Sebab, mereka mampu dan berani keluar dari aturan tak tertulis tentang perempuan, yang salah satunya kepemilikan rambut panjang. Dari pandangan itu, orang-orang –yang saya bilang awam- kerap memicingkan mata dengan ‘aroma’ tidak menyenangkan.
Sering kali, sejak 2011 saya memutuskan untuk konsisten sebagai wanita berambut pixie, di beberapa kesempatan yang banyak orang saya tidak kenal, saya menangkap pandangan-pandangan menyebalkan; melihat penampilan saya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Belum lagi setelahnya ada aktivitas bisik-bisik dengan orang di sebelahnya sambil melirik kepada saya. Maksud looo?
Sebagai perempuan, mungkin saya tampak berbeda dengan mereka. Namun, adakah saya menyalahi aturan sosial? Apakah rambut pendek saya merugikan mereka? Atau bahkan mereka yang terlalu normal? Kesal sih nggak, hanya saja terkadang saya heran saja. So what, ye kan?
Well, apapun itu, selama apa yang saya lakukan direstui oleh orangtua saya, saya akan tak akan begitu ambil pusing. Sebab, short hair and I don't care~
Salam,
Febriyani Frisca
Editor Kanal Unique
0 Response to "Editor Says: Short Hair and I Don’t Care"
Posting Komentar